Ujian Sebelum Pulang
Pulang. Dalam hakikatnya adalah kembali. Kembali pada keabadian
yang akan ditempuh setelahnya. Namun kali ini berbeda. Ini hanya perpulangan
biasa. Pulangnya seorang perantau menuju daerah asalnya. Sebagai santri,
perpulangan kami tak dapat ditempuh dengan mudah. Sebelumnya kami harus
menyelesaikan beberapa tugas. Diantaranya adalah UAS kuliah lalu dilanjutkan
dengan ujian tahfidz. Seorang ustadzku berkata bahwa ujian sesungguhnya adalah
ujian kehidupan. Setiap detik yang kita lalui adalah ujian. Setiap hari yang
kita temui selalu menyediakan masalah-masalah baru yang menuntut diselesaikan.
Ujian hidup itulah yang harus kita selesaikan. Yang melatih kita untuk terus
menerus memperbaiki niat yang lurus, menuntut kita untuk terus mengaplikasikan
sabar dan syukur. Lalu ujian yang kami laksanakan itu haruslah jua diniatkan
karena Allah. Bagaimana tidak? Bukankah semua amal tergantung kepada niatnya.
Kita bisa saja meniatkan ujian itu untuk mendapat nilai paling besar. Atau bisa
saja ia kita niatkan agar mudah mendapat izin pulang. Tapi itu sesungguhnya
hampa. Tak ada ridho Allah disana. Ia tak bernilai ibadah di sisi-Nya.
Ujian sebelum pulang. Mengingatkanku pada hakikat kematian. Bahwa
kehidupan yang kita lalui ini berisi ujian yang akan mengantarkan kita pada
kematian. Kematian adalah awal kita menuju keabadian. Ia bisa saja
membahagiakan jika ujian yang ditempuh seseorang itu berhasil baik di mata
Allah. Namun sebaliknya, jika ia gagal dalam menempuh ujian itu, ia akan
mendapatkan balasan yang setimpal. Ustadz selalu mengingatkan “Selesaikanlah
ujian tahfidz kalian dengan baik agar kalian bisa pulang”. Maka aku pun mengingatkan
kepada diri sendiri, “selesaikanlah tugasmu sebagai kholifah di bumi
sebelum kau pulang dengan sebenar-benarnya pulang, tak inginkah kita dipanggil
oleh-Nya dengan panggilan : ‘wahai jiwa-jiwa yang tenang kembalilah kepada
Tuhanmu dengan hati yang ridho lagi diridhoi, maka masuklah kedalam golongan
hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam syurga-Ku’. Maka “…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya." (SQ. Al Kahfi
: 110).
Selalu, kita harus senantiasa beramal sholeh
setiap waktu secara kontinyu. Sebab perpulangan kita yang sesungguhnya tak ada
yang tahu waktunya. Persiapan kita tak cukup dilakukan selama satu pekan atau
satu hari sebelumnya seperti perpulangan kita menuju rumah kita di dunia, tapi
persiapan menuju kematian itu haruslah dilakukan sepanjang kita hidup. Mudah-mudahan
Allah senantiasa memberikan kita keistiqomahan dalam beramal. Hingga saat itu
tiba, kita telah bersiap menemui-Nya dalam keadaan ridho dan teridhoi. Mudah-mudahan
perpulangan kita adalah husnul khotimah.
Komentar
Posting Komentar