Persepsi
"Aku gak mau makan lele." Celetuk salah satu teman saya.
"Kenapa?" Tanya yang lain.
"Soalnya jadi teringat dia." Timpalnya lagi.
"Haah.. Siapa dia?" Teman yang lain bertanya dengan penuh penasaran.
"Maksudku ular, lele itu kepalanya mirip ular, jadi buat aku gak gak nafsu makan."
Wkwkwk. Temen sekamar ngakak semua.
"Ya ampun, saya kira dia tuh orang, ternyata ular. Tahu gak? Saya udah mikir kemana-mana, ngira kamu inget mantan lah, inget siapa lah. Hehe. Maaf ya, udah suudzon duluan."
Tulisan di atas adalah kisah nyata yang terjadi diantara saya dan teman-teman pondok. Sering banget kita kayak gitu. Membatasi makna sesuatu dengan sempit. Ada yang bilang "dia" ngiranya sang mantan atau pacar. Ada yang bilang "cinta" pikiran kita langsung tertuju pada orang pacaran. Padahal maknanya tidak selalu begitu. Kita terkadang terlalu sempit dalam memaknai sesuatu, terburu-buru mengungkap maksud tanpa mencerna terlebih dahulu hingga berseteru. Memaknai sesuatu itu tergantung kita. Setiap sesuatu memiliki dua sisi, tergantung kamu mau ngambil dari sisi mana. Pastikan selalu memenuhi pikiranmu itu dengan hal-hal positif. Biar kamu gak suudzon duluan. Selalulah memposisikan diri di tempat terbaik dalam mengambil persepsi. Dalam beberapa kesempatan, saya pernah memotong pembicaraan orang lain sampai salah cerna maksud yang ingin disampaikan karena terburu-buru berkomentar. Akhirnya berujung pada perseteruan. Dari situ saya tak ingin lagi terburu-buru berkomentar sebelum berakhir pemaparan yang lawan bicara sampaikan.
"Kenapa?" Tanya yang lain.
"Soalnya jadi teringat dia." Timpalnya lagi.
"Haah.. Siapa dia?" Teman yang lain bertanya dengan penuh penasaran.
"Maksudku ular, lele itu kepalanya mirip ular, jadi buat aku gak gak nafsu makan."
Wkwkwk. Temen sekamar ngakak semua.
"Ya ampun, saya kira dia tuh orang, ternyata ular. Tahu gak? Saya udah mikir kemana-mana, ngira kamu inget mantan lah, inget siapa lah. Hehe. Maaf ya, udah suudzon duluan."
Tulisan di atas adalah kisah nyata yang terjadi diantara saya dan teman-teman pondok. Sering banget kita kayak gitu. Membatasi makna sesuatu dengan sempit. Ada yang bilang "dia" ngiranya sang mantan atau pacar. Ada yang bilang "cinta" pikiran kita langsung tertuju pada orang pacaran. Padahal maknanya tidak selalu begitu. Kita terkadang terlalu sempit dalam memaknai sesuatu, terburu-buru mengungkap maksud tanpa mencerna terlebih dahulu hingga berseteru. Memaknai sesuatu itu tergantung kita. Setiap sesuatu memiliki dua sisi, tergantung kamu mau ngambil dari sisi mana. Pastikan selalu memenuhi pikiranmu itu dengan hal-hal positif. Biar kamu gak suudzon duluan. Selalulah memposisikan diri di tempat terbaik dalam mengambil persepsi. Dalam beberapa kesempatan, saya pernah memotong pembicaraan orang lain sampai salah cerna maksud yang ingin disampaikan karena terburu-buru berkomentar. Akhirnya berujung pada perseteruan. Dari situ saya tak ingin lagi terburu-buru berkomentar sebelum berakhir pemaparan yang lawan bicara sampaikan.
Komentar
Posting Komentar