Telepati

Ada rentetan rindu yang berderai

Yang sayangnya ia tak dapat kita urai
Telepati itu masih kuat dalam radarnya
Tampaknya ada khawatir di sana
Saat kau berkata dalam lirih
Suara itu terdengar sampai sini
Aku bertanya,
Ada apa gerangan?
Apakah hati yang kokoh itu masih teguh?
Tanya itu melambung jauh
Bersama rapal do'a yang juga mengudara
Sebab mentari tak rela
Jika mendung menghalangi tampilnya
Setelah beberapa bulan HP ku teronggok di dalam box milik penanggung jawab asrama, hari itu HP dibagikan karena ada tugas kepanitiaan pondok. Ku buka aplikasi whatsApp, ada notifikasi dari sahabat lamaku. Katanya ia rindu sangat padaku, saat ini ia sedang berada di bawah. Ia butuh aku. Ada khawatir dalam hatiku. Ada apa? Aku merasakan ada perkara besar yang tengah mengguncang jiwanya. Aku balas dengan pertanyaan, masihkah ada rindu itu? Pasalnya ia mengirim chat itu beberapa pekan yang lalu. Padahal ia tahu bahwa aku tak memegang HP selama di asrama. Itu tandanya ini adalah perkara besar.
Aku memutuskan untuk menelponnya hari itu juga. Tapi ia mendahuluiku. Suaranya hampir tak terdengar. Apakah ia sakit? Batinku. Ia berbasa basi dengan menanyakan kabar. Aku katakan bahwa aku baik-baik saja. Segera aku serang dia dengan pertanyaan-pertanyaan. Aku khawatir sungguh. Ada gelagat tak biasa dari suaranya, dari keceriaannya. Ia katakan bahwa ia sebenarnya ingin bercerita banyak. Suaranya tercekat menahan tangis kala itu. Ia hanya bercerita beberapa hal saja. Beberapa hal yang membuat aku merasa tertusuk dengan salah satu ceritanya. Aku merasa kasian, marah, kecewa, bingung. Semuanya campur aduk. Ia meminta saran kepadaku, tentang kepelikan yang ia tanggung. Entahlah, aku pun bingung. Aku hanya menyarankan kepadanya untuk perbanyak sholat sunah dan istighfar. Aku katakan padanya bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya. Aku percaya ia bisa melewatinya. Aku memohon maaf karna tak bisa membantu banyak. Tapi aku katakan, bahwa saat di bumi ini tak ada satu pun orang yang mampu meringankan beban kita, kita harus ingat bahwa Allah selalu ada. Allah bahagia saat seorang hamba datang kepada-Nya dan memohon beberapa permintaan dengan penuh harap. Jalan keluar adalah dengan taqwa.
Allah SWT berfirman:
“…Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
“…Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
“…Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya.”
(QS. At-Talaq : 4-6)
Rasanya beban yang ia rasakan juga aku rasakan. Ya Allah, kuatkan dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengerti Hidup

Ujian Sebelum Pulang